Masalah umum seni lukis realisme: Bagaimana Membuat LUKISAN terlihat LEBIH ‘HIDUP’ ?
Oleh: Herri Soedjarwanto
“Teorinya sih gampang...persiskan saja bentuk dan warna dengan obyek yang dilukis.. pasti kelihatan hidup”.
“Sudah dipersiskan…tapi kok belum terlihat hidup juga ya..?”
“Yaah … itu artinya belum persis betul… ! Jika sudah persis betul ,
pasti terlihat hidup, seolah ada nyawanya, rohnya, atau auranya …”.
Prinsip dasar (tehnik ) melukis realisme adalah : “Meniru dengan persis dan membandingkan dengan tepat”. Setelah
melalui proses panjang sehingga prinsip dasar itu cukup dikuasai,
barulah mengarah pada “muatan / isi lukisan” seperti : thema, ide,
gagasan,visi, misi, pesan dan sebagainya. Dan selanjutnya kedua hal
tersebut ( tehnik dan isi lukisan ) berproses dan berjalan secara
simultan, menyatu dalam diri seniman / pelukis .
Soal muatan atau isi lukisan terpulang pada masing-masing pelukis /
seniman, karena setiap orang punya latar belakang ,pemikiran,
pengalaman dan tujuan yang berbeda. Semuanya OK dan sah-sah saja.
“Meniru dengan persis dan membandingkan dengan tepat”.
Dialog di awal tulisan ini menunjukkan bahwa apa yang diyakini
kebanyakan orang “sudah persis” itu ternyata sebetulnya belum persis,
bahkan sering kali masih jauh dari persis, menurut kriteria lukisan
realisme yang baik dan ideal.
Agar obyek di dalam sebuah lukisan realism bisa terlihat hidup maka
harus persis dalam beberapa aspek sekaligus. Persis bentuknya, warnanya,
karakter bendanya, karakter manusianya, ekspresinya, suasananya, dan
seterusnya... dan semua itu harus tersusun dalam suatu perbandingan
yang tepat dan harmonis.
Bagaimana mencapai kepersisan tingkat tinggi sehingga lukisan bisa terlihat hidup?
Kita tentu pernah dengar ungkapan klasik: “Alam adalah Guru yang Terbaik”. Nah di situ rahasianya.
Jadi … banyak-banyaklah belajar kepada alam. Cari dan Pelajarilah rahasia alam.
Caranya adalah banyak mengamati dan ‘berdialog’ dengan alam.
Sebanyak mungkin melukis obyek secara langsung dari alam nyata, bukan
dari alam maya (foto), karena foto itu terbatas, banyak kekurangan dan
kelemahannya. Sehingga kalau kita percaya total pada foto, siap-siaplah
untuk kecewa karena foto sering kali menipu.
Sekedar sharing, berdasar pengalaman ,
Saya sendiri melakukan dengan cara sebagai berikut: Selama 5 tahun pertama, saya mengharamkan diri menggambar maupun melukis dari foto. Semua lukisan saya buat dengan memakai model, obyek benda , manusia , alam secara langsung , total tanpa bantuan foto.
Saya sendiri melakukan dengan cara sebagai berikut: Selama 5 tahun pertama, saya mengharamkan diri menggambar maupun melukis dari foto. Semua lukisan saya buat dengan memakai model, obyek benda , manusia , alam secara langsung , total tanpa bantuan foto.
Setelah 5 tahun saya benar-benar sudah mengerti rahasia alam yang
membuat lukisan bisa tampak hidup. Setelah yakin tak mungkin tertipu
oleh kekurangan dan kelemahan foto, barulah saya menggunakan sedikit bantuan foto untuk membuat lukisan. Sedangkan porsi utama yang terbanyak adalah tetap: pengamatan dan perenungan intensif terhadap ‘alam’ (obyek lukisan ).
0 komentar: