• REALITAS LUKISAN REALIS

    Realitas Lukisan Realis
    Catatan apresiasi terhadap karya Dodik Hartono
    Oleh Henri Nurcahyo
     
    Seorang pelukis memiliki kekuasaan di atas kanvasnya. Dia bisa melukis apa saja sesuai dengan apa yang dilihatnya, dirasakannya, dipikirkannya, diinginkannya, atau bahkan tahu-tahu dia melukis tentang sesuatu yang berasal dari bawah sadarnya. Tidak ada keharusan apapun yang membuat pelukis harus melukis persis seperti kondisi aslinya. Karena lukisan adalah lukisan, bukan karya fotografi. Masing-masing memiliki kaidah dan aturan yang berbeda. Lukisan dan foto, memiliki "kelebihan" dan "kekurangannya" sendiri-sendiri.

    Itulah sebabnya, ketika seorang pelukis terpesona oleh pemandangan alam di sebuah desa misalnya, dia bisa saja langsung memindahkan apa yang dilihatnya itu ke atas sebuah kanvas. Tetapi karena dia pelukis, bukan fotografer, maka tentunya ada yang memang tidak sama dengan kondisi aslinya. ini terjadi karena dia memang melukis sebagaimana kata hatinya, bukan sekadar memindahkan obyek nyata menjadi lukisan. Karena itu, kalau ada pertanyaan, mengapa lukisan tentang sawah ini berbeda dengan sawah aslinya? Jawabnya sederhana, "ini lukisan, bukan foto."

    Bahkan, dalam fotografipun tidak sekadar: Datang, incar dan jepret. Namun didahului oleh proses berpikir tentang kira-kira foto bagaimana yang ingin dihasilkan. Ada gagasan yang hendak disampaikan melalui karya seni fotografi. Gagasan itulah yang akhirnya menuntun fotografer untuk menentukan angle (sudut pengambilan), cakupan bidang gambar (space), kadar cahaya, bahkan sampai dengan mengatur posisi obyek yang hendak difoto. Sekadar diingat, dalam fotografi bukan hanya diperlukan fotografer, melainkan ada posisi yang disebut Pengarah Gaya (kadang dua posisi ini dirangkap satu orang). Pengarah gaya inilah yang punya konsep terhadap foto bagaimana yang dihasilkan agar mampu mewakili suatu ide tertentu. Fotografi yang dilakukan dengan konsep yang jelas, menghasilkan karya seni foto yang mampu "berbicara sendiri".

    Tak bisa disangkal, bahwa kemampuan pelukis untuk membuat lukisan yang persis aslinya membutuhkan kepiawaian tersendiri. ltulah sebabnya pelukis legendaris Raden Saleh pernah mengecoh teman-teman pelukisnya di Belanda ketika dia melukis dirinya terkapar di lantai. Atau, sedemikian bagusnya sebuah lukisan tentang bunga, sampai-sampai seekor kumbang atau kupu-kupu tertipu hinggap di atasnya. Dalam dunia seni rupa, lukisan yang persis aslinya itu disebut lukisan naturalis.

    Pendapat bahwa lukisan yang persis obyek aslinya itu adalah lukisan yang bagus, sebetulnya berawal dari filsuf Aristoteles, yang menyebutkan bahwa seni (lukis) adalah mimesis (peniruan) alam. Jadi, semakin bagus meniru alam, maka itulah karya seni (lukis) yang bagus. Tapi asal tahu saja, bahwa Aristoteles hidup pada abad III Sebelum Masehi (SM). Jadi, kalau sekarang ternyata masih ada yang menganggap bahwa lukisan realis yang persis foto itu sebagai satu-satunya (sekali lagi: satu-satunya) parameter lukisan yang bagus, berarti dia ketinggalan 2300 tahun.

    Bukan Satu-satunya

    Kalau dipikir-pikir, kadang-kadang masyarakat sepertinya "tidak adil" memberlakukan kesenian. Masyarakat cenderung menuntut untuk memberlakukan kriteria tertentu terhadap lukisan yang bagus atau yang realis-naturalis. Mereka menginginkan, bahwa lukisan yang nonrealis itu "harus ada artinya". Padahal, tuntutan yang sama tidak mereka berlakukan terhadap kain batik, desain hiasan pada seni kerajinan ataupun bentuk-bentuk rupa yang melekat pada benda-benda keseharian. Kalau sebuah baju dikenakan seseorang sehingga merasa berwibawa, ganteng, cantik, atau tampil mempesona misalnya, tak ada tuntutan untuk menjelaskan, "makna gambar atau desain tekstil pada bajunya itu." Yang penting pantas dan enak dipandang. Jadi, mengapa hal yang sama tidak diberlakukan pada lukisan? Mengapa pelukis seperti dituntut untuk menjelas-jelaskan maksud lukisannya?

    Memang tidak salah, menganggap bahwa lukisan yang bagus adalah yang persis aslinya. Tetapi anggapan seperti itu hanya merupakan salah satu (sekali lagi, bukan satu-satunya) parameter untuk menilai lukisan yang bagus. Bahkan, hanya dari satu parameter ini saja, tidak selalu bahwa lukisan yang persis foto otomatis dapat dikatakan sebagai lukisan yang bagus. Sebab, kalau tujuan akhirnya memang melukis persis foto, mengapa tidak langsung difoto saja?
    Logikanya, karena lukisan adalah lukisan dan bukan foto, maka lukisan yang persis foto seharusnya masih memiliki perbedaan dengan karya fotografi. Kalau seni foto sangat tergantung pada kamera dan peralatan teknologi lainnya, maka lukisan sangat tergantung pada pelukisnya. Nilai subyektivitas sebuah lukisan jauh lebih besar ketimbang karya fotografis. Karena dalam seni lukis interpretasi, pengalaan batin, gejolak jiwa seorang pelukis sangat menentukan apa yang nantinya muncul di atas kanvas.

    Dalam khasanah seni rupa, kalau lukisan dibuat mendekati obyek aslinya, maka biasanya disebut lukisan naturalis (natur = alam). Yang berarti, bahwa lukisan yang menampilkan apa adanya sesuai dengan apa yang dilihat di alam aslinya. Pada tataran inilah lantas muncul anggapan bahwa lukisan (naturalis) yang bagus manakala berhasil secara persis menyamai kondisi aslinya. Tetapi, karena faktor pelukis masih dominan, ada saja hal-hal yang menjadikan lukisannya tidak sama dengan yang dibuat pelukis lainnya. Pilihan Warna, gradasi, cara menarik garis, sapuan kuas dan hal-hal yang nampaknya kecil dan sepele, namun mampu menunjukkan subyektivitas pelukisnya. Itulah sebabnya mengapa lukisan naturalis seperti mirip foto yang dibuat seorang pelukis akan berbeda dengan hasil lukisan pelukis yang lain meskipun obyeknya sama.

    Meskipun, tentu saja, membuat lukisan naturalis itu masih tetap punya peluang untuk dapat disebut lukisan yang bagus. Bahkan, ada anggapan sementara orang, syarat menjadi pelukis yang bagus itu kalau mampu membuat lukisan naturalis lebih dulu sebelum menjelajah pada gaya lukisan lainnya. Anggapan inilah yang kemudian mendasari pelajar melukis alam benda di sekolah, seperti melukis pot atau vas bunga, melukis kendi, gelas, piring, bangku dan kursi, atau melukis buah-buahan di atas talam.

    Lukisan naturalis, memang merupakan langkah awal untuk menjelajah ke lukisan realis. Dalam lukisan realis, interpretasi pelukis lebih berperanan dibanding apa yang secara kasat mata ditangkap secara naturalis. Tingkat dan kedalaman interpretasi inilah yang kemudian lebih memberikan nilai tersendiri pada lukisan realis. Tidak heran, sedemikian kuatnya pengaruh interpretasi itu maka pada lukisan realis kadangkala justru menjadi tidak secantik alam aslinya sebagaimana kalau dilukis secara naturalis.

    Tetapi sudahlah, barangkali klasifikasi itu hanya membuat bingung saja. (Abaikan saja istilah-istilah itu.) Lukisan naturalis, realis atau apapun namanya, kalau dibuat secara bersungguh-sungguh tentunya akan berpeluang untuk menjadi lukisan yang bagus. Asal tahu saja, bahwa lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci adalah salah satu contoh lukisan realis yang mampu hadir sebagai karya masterpiece dunia. Demikian juga lukisan Penjaga Malam karya Rembrant adalah tergolong lukisan realis. Lantas, siapa yang menyangkal bahwa lukisan-lukisan naturalis-realis Raden Saleh, Basuki Abdullah, atau juga Dullah bukan karya yang bagus? Jadi, sekali lagi (agar tak salah persepsi), bahwa lukisan naturalis - realis pun tetap memiliki peluang untuk dapat disebut sebagai lukisan yang bagus. Tetapi, sekali lagi, bukan berarti yang sebaliknya. Artinya, lukisan yang bagus itu tidak harus berupa lukisan realis. Para pelukis yang selama ini memiliki jalur naturalis-realis tidak perlu  berkecil hati dianggap "ketinggalan jaman" karena memang memiliki parameter sendiri dibanding lukisan nonrealis. Justru lukisan realislah yang sanggup bertahan sepanjang zaman.

    Jendela Hati

    Bagaimanapun lukisan hanyalah sebuah media untuk menyampaikan apa yang bergejolak di hati pelukisnya, lukisan juga menjadi sarana bagi pelukis untuk merespon lingkungannya. Tokoh pelukis Indonesia, Soedjojono pernah berkata, "lukisan yang baik itu bagaikan jiwa ketok." Maksudnya, dengan memandang sebuah lukisan akan dapat terbaca, atau terasakan bagaimana jiwa pelukisnya. Lukisan yang baik, maksud Sudjojono, manakala lukisan itu memiliki "jiwa".

    Pendapat yang lebih sederhana, ada kolektor lukisan yang berkata, "saya menyukai lukisan yang tidak selesai dipandang hanya dalam satu kali." Maksudnya, setiap kali dia melihat lukisan yang sama dalam waktu yang berbeda, selalu menemukan ada sesuatu yang lain yang didapatkannya. Menikmati sebuah lukisan, seolah-olah seperti membaca sebuah artikel, atau sebuah cerita pendek, atau bisa jadi seperti membaca sebuah novel. Kalau lukisan hanya selesai dipahami hanya dalam satu kali pandang saja, apa bedanya dengan  rambu lalulintas? Kalau ada huruf P yang dicoret miring, itu artinya Dilarang Parkir. Jelas, dan selesai sudah.

    Lagi-lagi menyebut contoh lukisan orang desa sedang panen misalnya, kalau diperhatikan secara seksama, rasa-rasanya ada yang berbeda dengan kenyataan aslinya. Orang mungkin akan bertanya, "mengapa tidak terasakan adanya keringat yang meleleh pada para pekerja keras itu?" Atau juga, mengapa batang-batang padi itu terlihat sedemikian sangat rapi, tak ada yang patah atau sedikit terluka akibat serangan serangga misalnya. Kemudian juga mengapa tanah lumpur sawah itu terlihat sedemikian bersih? Dan masih banyak pertanyaan lain yang dapat saja lahir setiap kali memandang lukisan yang sama dalam saat yang berbeda. Justru dengan semakin banyak pertanyaan yang lahir itulah kemudian menjadikan lukisan itu tidak membosankan untuk dinikmati setiap hari. Sepertinya selalu yang baru setiap memandangnya.

    Tetapi dalam lukisan, seringkali ditemukan makna yang berbeda-beda meski gambarnya tetap itu-itu saja. Pada tataran yang disebut terakhir ini, lukisan dan karya seni pada umumnya harus dipahami secara multi interpretable (banyak makna). Bahkan, makna yang muncul ketika menikmati sebuah karya lukis bisa jadi malah berbeda dengan apa yang diinginkan oleh pelukisnya. Di sinilah sebetulnya pelukis telah berhasil menghadirkan imajinasi yang terus berkembang ketika karyanya berinteraksi dengan orang lain selaku penikmat. Orang akan tergiring imajinasinya ketika melihat obyek dalam lukisan, sesuai dengan pengalaman batinnya sendiri-sendiri. Dunia seni adalah dunia imajinasi.

    Dalam sebuah lukisan tentang orang-orang desa yang sibuk panen padi, (sekadar contoh yang sama) pelukis membuatnya karena dia kagum dengan etos kerja mereka. Tetapi ketika lukisan yang satu itu ketika dinikmati oleh orang lain, bisa jadi dia malah beranggapan bahwa lukisan itu "mampu menghantarkan memorinya ke masa kecilnya yang hilang." Orang yang lain akan beranggapan, bahwa lukisan yang sama mampu "menyadarkan dirinya terhadap bumi yang ramah dan telah memberikan rejeki melimpah." Dan sebagainya, dan seterusnya.

    Apa yang ingin hendak ditegaskan di sini adalah betapa pentingnya sebuah gagasan dalam seni lukis. Faktor gagasan itulah yang akhirnya menjadi penentu apakah lukisan yang dihasilkan hanya sekadar merupakan ketrampilan tangan atau memang merupakan buah dari proses pemikiran. Kemampuan melukis saja tanpa disertai dengan gagasan yang memadai, akhirnya akan terperosok dalam pekerjaan tukang lukis belaka.

    Pertanyaannya kemudian, apakah sebetulnya yang ada dalam kepala pelukis sekarang ini? Apakah mereka telah memiliki sangu (bekal) gagasan yang memadai sehingga mampu diandalkan untuk membuat lukisan yang berbobot?

    Bahwasanya melukis tidak cukup hanya dengan modal bakat saja, namun diperlukan perjalanan panjang untuk mendapatkan kemampuan teknik, pemahaman empirik sehingga memperkaya gagasan dan penghayatan yang menjadikan lukisannya memiliki bobot tersendiri. Masing-masing unsur tersebut akan menentukan pada titik berat yang mana seorang pelukis menunjukkan kelebihannya. Syukur-syukur, ketiga elemen tersebut memang sepenuhnya telah digenggam oleh seorang pelukis.

    Barangkali, dengan cara pandang seperti itulah kita bisa memulai membuka pintu untuk menikmati lukisan karya Dodik Hartono. Sebagai arek kota yang memang tidak pernah tinggal di desa, Dodik mengaku terpesona dengan pemandangan desa. Dia kagum dengan keindahan alamnya, dengan keasrian lingkungannya, dan lebih-lebih terhadap etos kerja orang-orang desa. Dalam hatinya Dodik berkata, bahwa orang-orang desa itu adalah pekerja yang tangguh, tahan terhadap segala goncangan, tak pernah jera menghadapi segala cobaan. Bekerja di sawah, adalah sebuah tugas mulia yang dilakukan orang-orang desa, karena dari kerja mereka itulah yang kemudian justru memberikan kehidupan pada orang-orang kota.

    Kemudian, dalam prakteknya Dodik ternyata melukis "tidak persis" sebagaimana yang disaksikannya di desa. Dia foto lebih dulu obyeknya berkali-kali, kemudian dia lakukan asembling untuk menciptakan komposisi yang dia inginkan. Demikian pula latar belakangnya, dia buat seperti yang diinginkannya sendiri, tidak harus persis seperti aslinya. Masih ada lagi beberapa hal kecil yang sengaja (atau tidak sengaja) dia lukis bukan seperti apa yang terjadi di lapangan. Berangkat dari uraian panjang lebar di atas, maka apa yang dilakukan Dodik adalah mencoba menuangkan isi hatinya dalam lukisan berdasarkan obyek yang telah disaksikannya. Dia sedang berbicara dalam bahasa gambar terhadap sesuatu yang menjadi pengalaman batinnya.

    Pada bagian tertentu, sedemikian rapi Dodik melukis daun demi daun, batang demi batang, yang kemudian mengingatkan pada gaya lukisan Kamasan atau lukisan dekoratif tradisional Bali pada umumnya. Realitas dekoratif inilah yang kemudian membedakan dengan realitas lukisan realis pada umumnya.Sepertinya Dodik memposisikan dirinya antara melukis yang realis dan yang dekoratif. Kalau pilihan ini disadari sebagai kekuatannya, bukan tidak mungkin dia akan menjadi pelukis yang bakal diperhitungkan di kemudian hari. Kita tunggu saja perkembangannya. 
    (http://www.dodikhartono.com)

0 komentar:

Posting Komentar