Masalah umum seni lukis realisme: Melukis Realisme Naturalisme, sebaiknya dari obyek langsung atau dari foto?
Oleh: Herri Soedjarwanto
Silahkan saja itu hak azasi… Tapiii.. ada hal sangat penting yang harus diingat bila melukis realisme dari foto : Hasil akhir LUKISAN HARUS LEBIH BAGUS DARI FOTO(acuan)NYA..!
Kenapa HARUS? Sebab kalau sampai terjadi : fotonya masih lebih bagus
daripada lukisan yang dibuat berdasarkan foto tersebut, maka… lukisan
itu akan dinilai / dianggap lukisan berkualitas rendah.. sebab: "
lukisannya lebih jelek dibandingkan foto acuannya.."
Keluhan umum yang sering terdengar: " Buat apa pesan
lukisan mahal-mahal, bila jadinya kualitasnya lebih rendah dari pada
fotonya? Lebih baik fotonya saja dicetak yang besar ".
Akibatnya posisi lukisan diremehkan, nilai harga lukisanpun akan
menjadi sangat murah. Harganya sama dengan atau bahkan lebih murah
daripada harga selembar foto dengan ukuran yang sama. (hal tersebut
sekarang ini banyak dijumpai terjadi di sekitar kita).
“Apa mungkin sebuah Lukisan menjadi lebih bagus dari pada foto acuannya? bahkan mengalahkan fotonya? Bagaimana bisa?”
“ Sangat mungkin dan sangat bisa..! Bahkan SEHARUSNYA BISA..! Kenapa… ?
Karena foto/ lensa kamera bikinan pabrik, hanya mampu merekam bentuk
fisik yang terdiri dari garis , bidang dan warna saja, secara dingin
tanpa perasaan.
Sedangkan seorang seniman / pelukis punya lensa (mata) bikinan Yang
Maha Kuasa, plus mata hati dengan kedalaman rasa yang terlatih, yang
mampu melihat menembus melampaui sekedar wujud fisik saja.”
“OK.., setiap
orang , bukan cuma seniman / pelukis , punya kelebihan tersebut
dibandingkan kamera… tapi realitanya hanya sedikit pelukis yang mampu
melukis lebih bagus dari fotonya … Mengapa?”
“ Yaa..analogi sederhananya begini… setiap orang juga punya tangan dan
kepalan tinju.. tapi hanya kepalan tinju Mike Tyson yang “mampu
menghentikan truk”.., mengapa yang lain tak bisa? ….
Jawaban untuk keduanya sama: …Karena kurang latihan keras atau bahkan tak pernah melatih diri untuk melakukan hal tersebut” …
“Latihan seperti apa yang diperlukan dan apa yang ingin didapatkan dengan latihan itu?”
“ Diperbanyak melukis dari obyek langsung seperti : alam benda , model,
pemandangan alam dan lain-lain. Tujuannya yang utama adalah mencari
tahu dan mempelajari “rahasia (sifat rupa) alam”. Setelah cukup
mengetahui rahasia alam tersebut, sangat kecil kemungkinan terkecoh oleh
kelemahan foto”.
Para maestro
dunia sepanjang jaman , seperti : Leonardo da Vinci, Michelangelo,
Raphael, Paul Rubens, Titian, Caravagio, Vandijk, Rembrandt van Rijn,
Delacroix, Vermeer, Gainsborough dan lain sebagainya tentu saja tak
mengalami masalah seperti kita sekarang. Saat itu belum ada fotografi (
atau kalau pun ada , baru ditemukan hingga masih sangat sederhana dan
pemakaiannya pun masih sangat terbatas).
Orang yang butuh
potret wajah ,atau pemandangan misalnya, tidak memotret sendiri dengan
kamera seperti sekarang, tapi meminta atau memesannya pada para maestro
itu untuk melukisnya. Para maestro dunia itu bekerja dengan cara
melukis model, atau obyeknya secara langsung. Karena terus menerus
bekerja dengan cara seperti itu, tak heran kalau mereka sangat memahami
rahasia alam, dan karya-karya mereka menjadi karya masterpiece yang
abadi…
ulasan yang menarik...
kalo boleh usul, materi yg dibahas lebih diperluas dan diperrinci lagi agar lebih berbobot,
misalnya perkembangan realisme di jaman kontemporer (yg cenderung dipandang sebelahmata), kebangkitan realisme yg dimulai skitar awal tahun 2000-an, hingga tips2 lain yg menjadikan karya realistic lebih berkualitas.
trimakasih...